Sebagian besar episode anak susah makan atau GTM (gerakan tutup mulut) adalah fase normal yang muncul ketika laju pertumbuhan melambat setelah usia 1 tahun, dan akan membaik dengan perbaikan aturan makan. Yang membedakan fase normal dari masalah yang sesungguhnya bukanlah seberapa sedikit anak makan hari ini, melainkan kurva berat badannya: selama berat badan masih naik mengikuti kurva pertumbuhan, biasanya belum ada yang perlu dikhawatirkan. GTM yang disertai berat badan mendatar atau turun selama dua bulan harus diperiksakan ke dokter.
Artikel ini bagian dari Panduan Tumbuh Kembang Anak 0–5 Tahun dari RSIA Mahati.
1. Apa itu GTM dan apakah normal?
GTM adalah istilah populer di Indonesia untuk perilaku anak menolak makan: menutup mulut rapat, memalingkan wajah, memuntahkan makanan, atau menyemburkannya kembali.
Ada dua kelompok besar yang perlu dibedakan:
| Sulit makan yang wajar | Sulit makan yang perlu dievaluasi | |
|---|---|---|
| Berat badan | Tetap naik mengikuti kurva | Mendatar atau turun ≥2 bulan |
| Variasi makanan | Menolak beberapa jenis, masih mau jenis lain | Menolak seluruh kelompok tekstur atau hampir semua makanan |
| Durasi | Beberapa hari sampai 1–2 minggu, hilang timbul | Menetap lebih dari 1 bulan |
| Kondisi anak | Aktif, ceria, tumbuh normal | Lesu, pucat, sering sakit, perkembangan terhambat |
| Gejala penyerta | Tidak ada | Muntah, nyeri, diare, batuk lama, demam berulang |
Mengapa nafsu makan menurun setelah usia 1 tahun? Pada tahun pertama, berat badan anak bertambah sekitar 6–7 kg. Pada tahun kedua, hanya sekitar 2 kg. Kebutuhan kalorinya per kilogram berat badan turun, sehingga porsi makan yang tampak "sedikit" bagi orang tua sebetulnya sesuai dengan kebutuhannya. Ini bukan penyakit — ini fisiologi.
Picky eater berbeda lagi: anak mau makan dalam jumlah cukup tetapi hanya pada jenis makanan tertentu. Perilaku ini umum pada usia 2–5 tahun dan biasanya berkurang seiring waktu, terutama bila orang tua tidak menjadikannya arena pertarungan.
Rekomendasi Dokter Mahatidr. Renata Yolanda Djatioetomo, Sp.ADokter Spesialis Anak
2. Penyebab non-medis yang paling sering
3. Penyebab medis yang sering terlewat
Bagian ini yang paling sering luput. Bila aturan makan sudah diperbaiki selama 2–4 minggu tetapi anak tetap menolak makan, cari kemungkinan berikut.
| Gejala yang menyertai | Kemungkinan penyebab |
|---|---|
| Rewel saat menelan, air liur berlebih, bintik putih di mulut | Sariawan, kandidiasis oral, tumbuh gigi |
| Sering gumoh/muntah, menangis saat berbaring setelah makan, batuk malam hari | Refluks (GERD) |
| Ruam kulit berulang, diare berdarah, muntah setelah minum susu | Alergi protein susu sapi |
| Pucat, lesu, kurang aktif, mudah lelah | Anemia defisiensi besi |
| BAB keras, jarang, nyeri saat BAB, perut kembung | Konstipasi |
| Demam tanpa sebab jelas, BAK berbau atau nyeri | Infeksi saluran kemih |
| Batuk >2 minggu, demam lama, berat badan tidak naik, ada kontak dewasa dengan TB | Tuberkulosis anak |
| Sesak saat aktivitas, mudah lelah saat menyusu, berkeringat berlebihan | Penyakit jantung bawaan |
| Sering tersedak, makanan keluar lewat hidung, hanya mau tekstur tertentu | Gangguan oromotor / kesulitan menelan |
Anemia defisiensi besi layak disorot tersendiri karena sangat umum di Indonesia dan menciptakan lingkaran yang sulit diputus: kekurangan zat besi menurunkan nafsu makan, nafsu makan yang turun memperburuk kekurangan zat besi, dan seterusnya. Lingkaran ini biasanya tidak akan putus hanya dengan memperbaiki cara menyajikan makanan.
4. Cara mengatasi anak susah makan: aturan makan (feeding rules)
Pendekatan yang direkomendasikan IDAI terdiri dari tiga komponen. Terapkan ketiganya sekaligus, konsisten, minimal dua minggu sebelum menilai hasilnya.
A. Jadwal
B. Lingkungan
C. Prosedur
Prinsip pembagian peran yang perlu diingat: orang tua menentukan apa, kapan, dan di mana anak makan. Anak menentukan berapa banyak dan apakah ia makan. Sebagian besar konflik makan bermula ketika orang tua mengambil alih bagian yang menjadi hak anak.
5. Pendekatan sesuai usia anak
Anak susah makan usia 1 tahun. Periode transisi dari MPASI ke makanan keluarga. Fokus: naikkan tekstur ke makanan cincang dan finger food, batasi susu maksimal ± 500 ml/hari, dan mulai terapkan jadwal makan yang tetap. Pastikan protein hewani hadir di setiap kali makan.
Anak susah makan usia 2 tahun. Puncak penolakan sekaligus puncak keinginan mandiri. Fokus: beri pilihan terbatas ("mau wortel atau brokoli?") agar anak merasa punya kendali, biarkan makan sendiri meskipun berantakan, dan hentikan kebiasaan menyuapi sambil menonton bila sudah telanjur terbentuk.
Anak susah makan usia 3 tahun ke atas. Fase picky eater dan pengaruh teman sebaya. Fokus: libatkan anak dalam memilih dan menyiapkan makanan, makan bersama keluarga di meja yang sama, dan jangan menyediakan menu khusus terpisah setiap kali anak menolak menu keluarga.
Rekomendasi Dokter Mahatidr. Renata Yolanda Djatioetomo, Sp.ADokter Spesialis Anak
6. Soal vitamin penambah nafsu makan
Ini pertanyaan yang hampir selalu muncul, jadi mari dijawab apa adanya.
Yang punya dasar ilmiah:
Yang perlu diluruskan:
Kesimpulan praktisnya: cari penyebabnya dulu, perbaiki aturan makan lebih dulu. Suplemen adalah pelengkap ketika ada defisiensi yang jelas, bukan solusi pertama.
7. Tanda bahaya: kapan harus ke dokter
Segera periksakan anak bila ada salah satu tanda berikut:
Jadwal Dokter · 7 Hari ke Depandr. Renata Yolanda Djatioetomo, Sp.ADokter Spesialis AnakBuat JanjiSabtu, 15 Agustus 202614:00 - 17:00Rabu, 19 Agustus 202613:00 - 15:00Kamis, 20 Agustus 202616:00 - 19:00Jumat, 21 Agustus 202616:00 - 19:00
Di Poli Anak RSIA Mahati (Petukangan Utara, Pesanggrahan, Jakarta Selatan), penanganan anak dengan kesulitan makan mencakup penilaian pertumbuhan, penelusuran penyebab medis, evaluasi kemampuan oromotor, serta penyusunan rencana makan bersama dokter spesialis anak dan ahli gizi. Lihat Jadwal Dokter untuk membuat janji.
Artikel ini ditinjau oleh dr. Maria Renata Yolanda Djatioetomo, Sp.A, Dokter Spesialis Anak RSIA Mahati. Materi bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan langsung oleh dokter.
Rujukan: Ikatan Dokter Anak Indonesia — Rekomendasi Pendekatan Kesulitan Makan pada Anak; WHO — Infant and Young Child Feeding; Kementerian Kesehatan RI — Buku KIA.
Baca juga: Panduan Tumbuh Kembang Anak 0–5 Tahun · Berat Badan dan Tinggi Badan Ideal Anak




















